Sunday, October 26, 2003
Amsal seorang penjual tukang botol di alun-alun

Seorang teman yang periang menceritakan cerita suka-duka bekerja di sebuah perusahaan
garmen. Well, sebenarnya lebih banyak duka dalam ceritanya ini: bagaimana gajinya tidak cukup,
sering pulang lewat jam kantor tanpa uang lembur, sering harus mensubsidi kantornya kalau
dinas luar, dsb..

Uniknya, cerita dikemas dengan tawa disana-sini. Hence derita tidak serta merta identik dengan
muka muram. Orang bisa tetap bergembira meski dilanda hal2 yang tidak terlalu menyenangkan

Di alun2 sebuah kota besar terdengar seorang tukang botol obrol dgn orang sekitarnya. Dia bilang:
punya uang bahagia, tidak punya uang harusnya tetap bahagia! Well, amsal macam ini memang
unik manakala diucapkan seorang yang hidupnya tidak mudah. Hidup memang jelas butuh uang,
tapi soal bahagia disarankan dilepaskan dari soal punya uang atau tidak.

Orang bisa berdalih bahwa kedua orang ini bisa begitu karena memang punya dasar periang. Ka-
lau orang punya dasar BT, pasti dia lewati hidupnya dengan merengut maksimum. Mungkin ini
ada benarnya: dan bisa ditulis satu renungan lain tentang hubungan bahagia dengan susunan saraf
dikepala orang, tapi kedua orang ini punya satu hal yang sama yaitu: mau menerima keadaan.

Derita yang diterima menjadi lain sifatnya dengan derita yang ditolak. Ini uniknya manusia, sang makhluk
pemikir. Hidup manusia bukan soal makan-minum-hormonal, tapi soal pemaknaan.

Derita mungkin bisa diukur kadarnya (sakit, agak sakit, sakit sekali, dsb), tapi derita (seperti semua
hal lain pun) adalah relatif sifatnya, tergantung bagaimana ybs me-makna-i nya. Dalam terminologi
santo Paulus, derita yan dipeluk erat sudah *kehilangan sungutnya*. Dalam gaya de Mello SJ, derita
yang *dipandang* berubah wujudnya: dari beban menjadi kekuatan.

Albert Camuslah yang kalau tidak salah merevisi dongeng Yunani kuna ttg Sisiphus (tahu bukan? itu
lho Sisiphus yang mendorong batu kepuncak bukit, lalu dipuncak bukit dewa iseng membuat batu
itu menggelinding balik dan Sisiphus mendorong ulang batu sial itu). Camus bilang setelah puluhan
kali mendorong batu gelinding ini, ia akan jadi lebih kuat dan effortnya jadi lebih sedikit. Hence derita
membawa nikmat (dapat juga ditanyakan apa tujuan Dewa yang iseng dalam dongeng ini...dan apa
dia tidak punya kerja lain selain meng-iseng-i Sisiphus)

Maka marilah kita menutup tulisan ini dengan mengingat derita Tuhan kita Yesus Kristus. Dia memang
sempat takut (Cawan yang ini,,,ya Abba?), tapi kemudian Dia peluk salibNya, dan salib menjadi lambang
keselamatan bagi Kita. Bukan karena sesuatu yang ghaib (salib sebagai jimat), tapi sebagai suatu
ajakan untuk *memandang* derita dan menggelutinya dan dengan demikian memnberi makna yang
baru baginya.

Ave Crux, Spes Unica
LN


Posted at 05:12 pm by Mitha
Make a comment

Saturday, October 25, 2003
Life

Life can only be understood backwards  
It must be lived forwards.
--Soren Kierkegaard

Di puncak salib Yesus mengatakan: pada tanganMu aku serahkan hidupKu
dan dia wafat - episode pertama habis sudah 
bisa kita bayangkan cukup singkat waktu bagiNya
untuk menulis bab terakhir cerita hidupNya
Dia yang mengatakan bahwa makananNya adalah sabda Tuhan
Yang berjalan berkeliling dan berbuat baik
di ujung misiNya menjerit - tapi tentu Dia sadar inilah jalan yang harus ditempuh
maka Dia menutup hidupnya dengan lega - legha lila

Berapakah waktu kita miliki untuk melihat ke belakang -
apa saja yang sudah terjadi dalam hidup kita ini...
tanpa pernah melihat sejenak kebelakang kita
tidak tahu persis kemana kita pergi -
sebab belakang adalah satu-satunya yang nampak buat kita renungkan.
Masa depan masih spekulasi -
tapi belajar dari pijak lama kita bisa belajar siapa kita - siapa Tuhan -
apakah hidup ini

Bekal ini kita butuhkan agar bisa menapaki masa depan dengan mantap.
Memang misteri masih terbentang, tetapi masa lalu paling sedikit jadi acuan
- at least bisa kita katakan: dulu begitu, jadi ada chance nanti begini...

Bukan untuk membuat teori yang beku (macam cerita Ayub),
tapi untuk dijadikan panduan

Oke, jam kantor selesai - acara buang2 bola ditutup disini -
wasit meniup peluit tanda tugas selesai

LN

Posted at 03:54 pm by Mitha
Make a comment

Tuesday, September 09, 2003
Kotbah Amanat Agung

Alkisah Minggu pagi kemarin di Maranatha bacaan utama diambil dari Mat. 28:16-20 tentang Amanat Agung.
Dengan harap-harap cemas konsentrasi full throttle, pasang telinga karena bukankah ayat tersebut yang always and still jadi bahan pakeukeuh-keukeuh di antara kita.
Karena bukankah ayat tersebut yg melegitimir door to door evangelism
Karena bukankah dengan ayat tersebut kita saling menghakimi dan either with us or against us.

Singkat cerita, khotbah berjalan sebagaimana biasa ( ? ), tapi buntutnya menggelitik jiwa
Kata pak Pendeta : "Jadi kalau Sampeyan ndak bisa ngabarken Kabar Keselamatan, ya minimal selamatken diri sendiri saja".

Sampai di rumah.............................bener juga ya kata Pak Pendeta
Cuman sayangnya nggak disinggung bagaimana kalau YK juga cuman mikir nyelamatin diriNYA sendiri.


AW

Posted at 08:29 am by Mitha
Make a comment





Aku ingin memahami hal yang aku imani
(St Agustinus)


   


Contact Me

<< May 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Pak/Bu

Nyaris semua dari kita pakai fasilitas kantor
care enough a little bit lah
ngono yo ngono
unang alai songoni bah

LN

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


blogdrive